[#CerpenNonFiksi] – Dan Kuantar Kau

BIODATA CUAPERS

Nama Lengkap : Yuliana Amerlina Irawan
Nama Panggilan : Yuli
Asal : Ciamis
Aktivitas : Kuliah
No HP : By request
Fb : https://www.facebook.com/yuliana.airawan

Dan Kuantar Kau…


Matahari dalam lukisan langit sudah menjadi sunatullah akan tenggelam dan berganti senja. Begitupun manusia, ada saatnya ia tak dapat lagi berpijak diatas bumi. Bukan lagi mobil, rumah mewah dan harta berlimpah. Pada hakikatnya kita terkadang tak mengerti betapa berharganya waktu, meski hanya satu detik. Saat yang satu ini semakin mendekat, menjadi janji terikat. Ya, kematian.

Hari ini, langit begitu mendung. Matahari sudah enggan menyinari bumi dan berganti menjadi siklus awan yang berubah menjadi butiran air yang turun dari langit. Entah ini pertanda atau bukan. Ternyata hujan menjadi kabar duka bagi kami. Nenek sakit. Ibu yang lebih dulu berangkat ke Rumah Sakit, mungkin seperti itulah yang sering orang katakan, “ikatan batin antara ibu dan anak”. Ramadhan tahun ini kali pertama aku merasakan ditinggalkan, terutama oleh nenek. Memang, sebelumnya orang tua dari ayah meninggal saat aku masih kecil dan belum mengerti apapun. Ibu sering bilang, aku adalah cucu yang paling disayang almarhum kakek. Sampai ketika beliau sakit, beliau masih sempat memanggil namaku. Subhaanallaah.

Belum pernah aku merasakan sakit ditinggal seseorang yang kusayang, meski jarang sekali menyempatkan waktu untuk sekedar menanyakan kabar atau mengunjunginya saat senggang, tetapi nenek selalu memanjakanku, menawarkan makanan apa saja yang aku inginkan, hingga terkadang beliau sampai membawakan air minum untukku. Ah, aku memang cucu yang tak suka menginap di tempat nenek jika tak bersama ibu. Lagi, harus selalu dengan ibu.

Ini adalah bulan Ramadhan, namun tak menjadi alasan kami untuk tidak menjenguk nenek di rumah sakit dan memutuskan untuk menginap beberapa hari disana. Meski saat sahur, ayah harus mencari warung nasi yang buka dan membeli banyak makanan untuk sahur perdana kami di rumah sakit. Semenjak beberapa hari rawat inap di ruang ICU nomor 03, terkadang dalam ucapnya nenek meminta makanan yang aneh, mulai dari jus melon, snack kue, dan lain-lain yang pada hari biasa beliau tak pernah sampai begitu. Begitupun kepada ibu, beliau mulai berwasiat.

Tatapan nenek tak terlepas saat aku duduk di lantai yang dilapisi karpet dan beliau terbaring di kasur pasien. Sungguh tak seperti biasanya, saait itu beliau menatapku sangat tajam bahkan hampir tak berkedip. Saat itu adalah satu hari sebelum nenek pulang ke pangkuan Allaah. Adakalanya orang yang akan meninggal menunjukkan tanda-tanda yang aneh bisa dikatakan berbeda dari biasanya, itu menurutku.

Hari ini nafsu makanku terkalahkan oleh tangisan kehilangan, adzan maghrib berkumandang pertanda sudah boleh buka puasa. Namun hanya beberapa tetes air minum saja yang masuk ke tenggorokan. Air mata terlanjur menghapus rasa lapar. Hari mulai menuju malam, kini langit entah sedang tak bersahabat atau memang ikut berduka. Dalam perjalanan menuju kampung halaman tempat nenek akan dimakamkan, aku yang duduk di jok depan di samping ayah tiba-tiba mendengar telepon dari ibu yang mengabarkan nenek meninggal. Ah, air mataku memang tak bisa dibendung lagi, ia begitu mudahnya keluar bercucuran membasahi pipi. “Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”, aku dan ayah sudah tak sabar ingin segera sampai.

Tiba disana, ternyata ambulance yang membawa jenazah nenek belum sampai. Tubuhku seketika lemas, kusandarkan punggungku di dinding lalu kutekuk kedua kakiku untuk sekedar tempat sandaran wajah. Aku menunduk sambil menahan tangis meskipun tak bisa. Sesekali saudara-saudara nenek bertanya kepadaku, salah satunya sambil membawa piring lengkap dengan nasi dan idam[1]-nya, “Teteh sudah buka puasa? cepat makan dulu yuk”, sedangkan aku hanya bisa menjawabnya dengan menggeleng-gelengkan kepala, mungkin karena mulutku mulai kaku karena dari tadi menangis terus.

Tiba-tiba suara ambulance mulai terdengar beberapa meter dari rumah, jenazah nenek sebentar lagi akan datang. Tangisanku semakin menjadi-jadi, namun Alhamdulillaah tak sampai berlebihan. Suasana rumah mulai ramai dengan tangisan sanak saudara. Kata ibu, nenek itu orang yang baik, beliau mampu menyesuaikan diri dimanapun, tak banyak bicara, dan mampu bersosialisasi baik dengan tetangga. Memang benar apa yang ibu katakan, karena yang aku rasakan pun begitu.

Orang-orang mulai sibuk mengurusi jenazah nenek, dari mulai memandikan, mengkafani, hingga mensholatkan. Alhamdulillaah yang mensholatkan dan mengaji pun bergiliran, karena sebagian besar keluarga kami tinggal perkampungan sehingga rasa toleransi masih melekat di setiap diri.

[1] lauk pauk

Arah jarum jam terasa berputar lebih cepat, akhirnya keluarga memutuskan untuk memakamkan nenek besok pagi karena hari sudah larut malam.

Kini, tak akan ada lagi yang memanjakanku jika liburan ke rumah nenek. Hmm.. Allaah memang selalu merancang semuanya dengan baik, kehidupan dan kematian berjarak begitu dekat. Tak ada kehidupan jika tak berakhir kematian. Di dunia, kita hanyalah seorang musafir yang sedang dalam perjalanan, lalu ia berteduh di sebuah pohon, namun pada akhirnya dia pasti akan melanjutkan perjalanan. Kullu nafsin dzaaiqotul mauut, “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”. “Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”. Begitulah janji yang Allaah firmankan dalam Al-Qur’an. Dia akan tepat pada janji-Nya, takkan pernah teringkari. Karena pada hakikatnya manusia hanya diberi fitrah untuk meyakini.

Tentu takkan selamanya kita hidup di dunia akan disertai orang-orang yang disayang atau menyayangi kita. Karena akan ada saat di mana senyum itu berubah menjadi tangis, dan pertemuan akan segera berubah menjadi perpisahan.

Meski terkadang ditinggalkan itu adalah hal yang paling menyakitkan. Namun aku selalu belajar dari ibu yang sabar, beliau selalu memendam sakit ditinggalkan nenek tanpa mengeluh apapun, karena ibu yakin bahwa itu adalah rencana terbaik yang Allaah berikan kepada keluarga kami. “Mau bagaimana lagi, segalanya sudah ditakdirkan oleh Allaah. Kalau sudah begini, tanda bakti kita kepada orang tua hanya bisa diutarakan lewat do’a”. Ah ibu, aku memang belum pernah merasakan apa yang engkau rasakan saat ditinggal nenek, tapi aku merasakan aura kesedihanmu. Aku pun tak tahu akan seperti apa ketika aku ditinggal olehmu, namun engkau meyakinkan bahwa kesedihan ditinggalkan itu tak perlu berlarut-larut. Yakin bahwa Allaah telah mengganti penjagaan kita menjadi penjagaan-Nya. Semoga nenek ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allaah. Aamiin…

Kematian yang tak pernah direncanakan, akan terus mendekat meskipun kita berusaha untuk menjauh. Kini tubuh nenek terbujur kaku dibalut kain kafan, aku hanya bisa memandangnya dari jauh sedang air mata ini belum juga berhenti mengalir. Esok perpisahanku dengan nenek akan benar-benar selamanya. Wajah bersih karena keta’atan takkan bisa lagi kulihat ketika sesekali mengunjungi rumahnya.

Senyum sejuknya takkan lagi kurasakan mengalir hingga ke lubuk hati. Pernah satu kali menginap di rumah nenek tanpa ditemani ayah dan ibu, masih jelas kuingat. Aku begitu merasakan dekat dengan nenek, bahkan aku merasa menjadi cucu yang paling disayang beliau.

Pada hakikatnya terkadang manusia takut menghadapi kematian, padahal itulah salah satu perantara bertemu dengan Allaah, Tuhan yang menciptakan kita hingga berada di bumi, yang menentukan jodoh, rezeki, hingga kematian.

“Bagaimana jika esok giliranku yang meninggal? tubuhku terbujur kaku, kemudian dibungkus kain kafan, aku digiring orang-orang menuju ke pemakaman, akhirnya aku berada sendirian di lubang bawah tanah itu, tak ada yang menemani seperti ketika aku di dunia. Kepada siapa lagi aku bisa meminta tolong? Lalu aku menyesal karena takut bekalku tak cukup untuk dapat mengantarku bertemu dengan Allaah. ” Pikirku melayang.

Kematian itu tak pernah mengenal muda atau tua, sakit atau sehat, kaya atau miskin. Malaikat izrail tetap menjalankan tugasnya, mencabut nyawa orang yang sudah Allaah tentukan waktu kematiannya. Tak diundur maupun dimajukan, namun berbeda cara, pada hakikatnya tetap kita yang menentukan khusnul khotimah atau su’ul khotimah.

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah : 8)

Kematian nenek mengajarkanku tentang betapa pentingnya menghargai hidup dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. “Menjadi manusia yang saat ia lahir orang-orang tersenyum bahagia, dan ketika ia meninggal orang-orang menangis merasa kehilangan”, sepeti itulah filosofi yang sering kudengar. Wallaahu A’lam.

Nek, semoga engkau ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allaah,
Allaah mengampuni dosa-dosamu,
Menerima amal ibadahmu semasa engkau di dunia, dan
Dia menerangi kuburmu,
Semoga tidur panjangmu kini berbuah pertemuan di syurga dengan Allaah, Rasulullaah, dan bersama-orang-orang yang semasa di dunia engkau cintai dan mencintaimu karena Allaah. Aamiin..

 

by. Yuliana Amerlina Irawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s